Wagub Nae Soi Ajak Masyarakat NTT untuk Kembali Beternak Babi

  • Whatsapp
Bagikan

KUPANG, beritalima.com – Virus African Swine Fever (ASF) atau yang dikenal sebagai Virus Demam Babi Afrika mulai masuk NTT sejak tahun 2020 serta telah mengakibatkan populasi ternak babi di NTT menurun drastis.

Bibit ternak babi semakin langka dan harga ternak  serta daging babi melonjak tajam. Selain itu virus ini juga memiliki  dampak psikologi sosial yang besar. Masyarakat takut dan ragu untuk beternak babi lagi.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS)  mengajak masyarakat NTT untuk kembali mengembangkan ternak babi. 

Hal tersebut  disampaikan Wagub JNS dalam sambutannya saat membuka kegiatan Kick Off Kampanye Kesadaran ASF dan Penyakit Hewan Menular Lainnya dalam Rangka Mendukung Pemulihan Sektor Babi di Aula El Tari, Senin (25/7).

Acara yang dihelat oleh Prisma Indonesia  bersama Dinas Peternakan NTT dilakukan secara luring dan daring.

Baca Juga:  Gubernur Jawa Barat Dukung NTT Jadi Tuan Rumah PON 2028

“Kita jangan takut. Apa saja kita tidak boleh takut, waspada boleh. Apapun kejadiannya,  apa saja yang namanya penyakit babi atau penyakit hewan menular lainnya, kita tidak boleh takut, tapi waspada. Dan kita harus mencari jalan keluarnya”, kata Wagub JNS.

Wagub menegaskan masyarakat wajar merasa takut karena apa gunanya pelihara babi kalau kemudian mati. Namun dengan berbagai kebijakan dan kegiatan,penyuluhan dan ikhtiar dari pemerintah bersama berbagai komponen masyarakat lainnya, penyakit ASF sudah bisa dikendalikan dan masyarakat mulai paham tentang langkah-langkah yang dilakukan agar ternak babi terhindar dari virus ASF.

“Saya imbau kepada masyarakat NTT, mulai sekarang dengan kegiatan yang mulai normal, mari kita pelihara babi seperti biasa lagi. Karena penyakit ASF mulai bisa ditangani. Pemerintah pasti cari jalan keluar. Mari kita mulai bangkit, mari kita pelihara babi,” ungkap Wagub JNS.

Dikatakan Wagub JNS, bagi masyarakat NTT, babi punya peran strategis bukan hanya untuk kepentingan ekonomis tapi  juga dalam  struktur sosial kultural masyarakat.

Baca Juga:  Saat Presiden Menonton Pacuan Kuda di Lapangan Rihi Eti Prailiu Sumba Timur

“Tanpa babi, berbagai upacara adat bisa batal dilaksanakan. Mulai sekarang, kita tidak hanya (selesai,red) berkumpul di sini, tapi saat kembali  masyarakat, semua pihak entah itu mahasiswa, LSM, para pendidik dan semua pihak lainnya, beritahu kepada masyarakat agar mulai sekarang pelihara babi lagi. Karena dengan babi, kita bisa lakukan kegiatan ekonomi, sosial dan budaya”, pungkas Wagub JNS.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan NTT, Johanna Lisapaly  menjelaskan jumlah ternak babi yang mati akibat virus ASF yang  dilaporkan secara resmi  ke dinas Peternakan  Provinsi NTT kurang lebih 122.000 ekor. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Pemerintah Provinsi telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian untuk  atasi penyebaran Virus ASF.

“Diperkirakan ternak babi yang mati di seluruh NTT lebih dari yang dilaporkan secara resmi. Setelah berbagai upaya yang dilakukan, sampai dengan Juli 2022 ini, tidak ada lagi laporan kematian babi akibat ASF. Tujuan kegiatan hari ini adalah untuk membangkitkan kembali industri peternakan di NTT,” jelas Johanna Lisapaly.

Baca Juga:  Kapolda NTT Resmikan Gedung Hemodialisa RSB Titus Uly Kupang

Pimpinan Prisma Indonesia Mohazin Kadir mengatakan, Prisma dalam kemitraan dengan pemerintah berupaya agar semangat masyarakat untuk pelihara babi kembali bangkit.

“Kegiatan kampanye ini nantinya diharapkan dapat memulihkan kepercayaan diri masyarakat untuk pelihara babi dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan Virus ASF dan penanganannya,” jelas Mohazin.

Kampanye berbagai hal tentang ASF ini juga melibatkan influencer youtuber NTT, Kaboax.

Wagub JNS dalam kesempatan tersebut juga secara resmi meluncurkan kegiatan Kick Off Kampanye Kesadaran ASF dan Penyakit Hewan  Menular Lainnya dalam Rangka Mendukung Pemulihan Sektor Babi melalui penekanan sirine. (*)

 

Pos terkait